TUBUH MANUSIA I : ANGGOTA TUBUH MATA

Muthaffifin ayat 30: Salah satu gerakan mata adalah berkedip

 Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya

(Allah mengabarkan tentang orang-orang yang berdosa yaitu yang menertawakan kaum mukmin sewaktu di dunia. Jika orang-orang mukminin berjalan di hadapan mereka maka mereka akan menghina dan merperolok-oloknya.

  • Kisah Abdulah Bin Ummi makhtum

Abdullah bin Ummi Maktum ialah seorang sahabat nabi yang buta matanya. Beliau pernah memohon pengecualian daripada Rasulullah SAW untuk tidak bersolat secara berjemaah di masjid pada waktu subuh dengan alasan tiada orang yang memimpinnya. Rasulullah bertanya, “adakah kamu dapat mendengar azan?”. Pantas beliau menjawab, “Tentu, Ya Rasulullah”.

“Kalau begitu, tiada keringanan bagimu”, balas Rasulullah. Sebagai hamba Allah yang tawaduk dan istiqomah dan sahabat yang taat, Abdullah bin Ummi Maktum meraba-meraba mencari jalan ke masjid dengan berpandukan suara azan pada waktu subuh. Tidak lama dia keluar dari rumah dan menghayun langkah, tiba-tiba kakinya tersadung batu lalu beliau terjatuh dan terluka wajahnya, lalu darah pun mengalir membasahi wajah mulianya. Beliau berpatah balik ke rumah membersihkan wajah dan menukar pakaian dan keluar semula dengan meraba-raba mencari jalan ke masjid.

Tiba-tiba datang seorang pemuda bertanya kepada beliau. ” Ammu (pakcik), mahu ke mana?” ” Ke masjid”, jawab Abdullah bin Ummi Maktum. “Marilah saya tolong pimpin ammu ke masjid”, tawar pemuda itu. Tentulah Abdullah bin Ummi Maktum berasa senang hati dengan tawaran itu. Mulai dari sejak itu, setiap subuh Abdullah bin Ummi Maktum keluar menunaikan solat subuh di masjid dengan ditemani oleh pemuda itu. Namun begitu, Abdullah bin Ummi Maktum tidak pernah mengetahui nama pemuda tersebut. Setiap kali ditanya, pemuda itu menjawab, “untuk apa ammu perlu tahu nama saya?” “aku ingin berdoa kepada Allah atas segala kebajikan yang kau lakukan kepadaku selama ini”.

”Ammu tak perlu berdoa untuk saya dan jangan lagi bertanyakan nama saya”, balas pemuda itu. Abdullah terkejut dengan jawapan pemuda itu, beliaupun kemudian bersumpah atas nama Allah, meminta pemuda itu untuk tidak menemuinya lagi, sampai beliau tahu siapa dan mengapa dia terus memimpinnya menuju masjid dan tidak mengharapkan balasan apapun.

Mendengar sumpah Abdullah bin Ummi Maktum, pemuda itu kemudian berfikir panjang, dia kemudian berkata: “Baiklah akan aku katakan siapa diriku sebenarnya. “Aku adalah Iblis” jawabnya. Abdullah bin Ummi Maktum tersentak tak percaya, “Bagaimana mungkin engkau memimpinku ke masjid, sedangkan dirimu menghalang manusia untuk mengerjakan solat?” Iblis itu kemudian menjawab: “Engkau masih ingat ketika dulu hendak melaksanakan solat subuh berjemaah, dirimu tersandung batu, lalu luka wajahmu?”.

“Iya, aku ingat” jawab Abdullah bin Ummi Maktum. “Pada saat itu aku mendengar ucapan malaikat, bahwasannya Allah telah mengampuni setengah dari dosamu, aku takut kalau engkau tersandung untuk kedua kali, lalu Allah menghapuskan setengah dosamu yang lain” jelas Iblis. “Oleh kerana itu aku selalu memimpinmu ke masjid dan mengantarkanmu pulang, khuatir jika engkau terjatuh lagi ketika berangkat ke masjid”

Astaghfirullah, ternyata iblis tak pernah rela sedikitpun melihat hamba Allah menjadi ahli ibadah. Terbukti semua cara ia tempuh, hingga ia tak segan untuk menggunakan topeng kebaikan, khuatir kalau mangsanya akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.

Al Balad ayat 8 : Allah memberikan kenikmatan yang besar bagi mansia yakni berupa sepasang mata untuk digunakan dalam kebaikan

 Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata,

  • Kisah Ibnu Abbas dan Ali ketika wajahnya dipalingkan dari melihat wanita

Imam Nasa’i meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa seorang  wanita dari Khats’am meminta fatwa kepada Rasulullah saw. Pada waktu haji wada’ dan al-Fadhl bin Abbas pada waktu itu  membonceng Rasulullah saw. Kemudian Imam Nasa’i menyebutkan kelanjutan hadits itu, “Kemudian al-Fadhl melirik wanita  itu, dan ternyata dia seorang wanita yang cantik. Rasulullah  saw. lantas memalingkan wajah al-Fadhl ke arah lain.”

Imam Tirmidzi meriwayatkan cerita ini dari hadits Ali r.a. yang di situ disebutkan: “Dan Nabi saw. memalingkan wajah   al-Fadhl. Lalu al-Abbas bertanya, ‘Wahai Rasulullah, mengapa  engkau putar leher anak pamanmu?’ beliau menjawab, ‘Aku   melihat seorang pemuda dan seorang pemudi, dan aku tidak  merasa aman terhadap gangguan setan kepada mereka.'” Tirmidzi berkata, “Hadits (di atas) hasan sahih.”13

  • Kisah Imam syafii yang mampu mengambil pelajaran dari pandangan

BAGHDAD, sekitar tahun 186-an hijriah. Seorang pengembara ilmu yang tak kenal lelah mengadukan nasib hafalannya yang tiba-tiba saja bermasalah. Sudah ribuan syair, ribuan ayat Al-Qur’an, dan ribuan hadits, lengkap dengan mata rantai periwayatannya, ia hafal di luar kepala. Namun entah kenapa pada saat dibutuhkan tiba-tiba saja koleksi hafalannnya itu susah untuk diingat.

Problem hafalan itu ia adukan kepada sang guru yang amat ia cintai. Sang guru yang bernama Waki’ ibn Al-Jarrah (W. 197 H) itu kemudian memberikan nasihat kepada murid kesayangan sekaligus kebanggaannya itu. Dengan santun nan bijak sang guru berkata, “tinggalkanlah maksiat, tinggalkanlah dosa”. Sederhana saja. Kemudian beliau sedikit menjelaskan, “Ilmu adalah cahaya. Bukan sembarang cahaya. Ia adalah cahaya dari Allah SWT. Dan Cahaya Allah tak akan teranugerahkan kepada si Al ‘ashi (pelaku maksiat) atau pendosa”.

Teringatlah sang murid genius dengan kejadian itu; dalam sebuah perjalanan, secara tak sengaja ia sekilas melihat bagian betis seorang wanita yang tersingkap karena tiupan angin. Yah, Itulah sebabnya. Maka ia pun beristighfar. Dan seperti biasa, setiap peristiwa penting seperti itu kemudian ia kisahkan dalam sebuah syair yang indah. Kali ini, peristiwa itu ia kisahkan dalam dua bait syair berwazan atau berbahar Wafir. “Syakautu ila Waqi’in sua hifdzi, Fa arsyadani ila tarki al ma’ashi, Wa akhbaroni bi anna ‘ilmu nuurun, Wa Nuurullahi la yu’tha li aashi”

Kisah yang dialami oleh mujtahid fiqih besar Imam Syafi’i diatas, barangkali bagi kebanyakan orang di zaman kita sekarang hanyalah kisah kecil. Peristiwa biasa. Apalagi itu tak sengaja. Namun tidak bagi Imam syafi’i. Bagi beliau yang berjiwa putih nan berhati bersih, yang selalu menjaga pandangan matanya dari semua yang dilarang dan diharamkan syariah, peristiwa “kecil” itu adalah peristiwa besar yang sangat berdampak bagi stabilitas hafalan dalam otaknya yang brilian.

At Takatsur ayat 6-7 : ancaman akan azab  yang pedih berupa melihat neraka

 niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,

dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin.

 An Naba ayat 40 : Penegasan akan adanya hari pembalasan dan perhitungan atas apa yang diperbuat manusia selama hidupnya

 Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.

 

An Naziat ayat 36 : Ancaman yang keras bagi orang-orang yang berbuat dosa, yang akan diperlihatkan neraka

 dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat.

 

An Naziat ayat 46 : Penglihatan saat hari kebangkitan yang bias diakibatkan ketakutan dan kecemasan yang luar biasa setelah diperlihatkan amal perbuatan selama hidup di dunia (penyesalan)

 Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.

  •  Hadits syafaat Al Uzma (syafaat terbesar)

At Takwir ayat 23: Penglihatan Nabi, Nabi Muhammad diberi keistimewaan dapat melihat malaikat yaitu jibril (kisah Rasul melihat Jibril dalam bentuk asli)

 Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.

 Muthaffifin ayat 15 : Orang yang tidak beriman terhalang dari melihat Allah, Hanya orang yang beriman kelak dapat melihat Allah

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka.

Al Balad ayat 7 : Allah Maha Melihat dan mengawasi apa-apa yang dikerjakan manusia. Tidak ada satupu yang luput dari penglihatan Allah

 Apakah dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya?

 At Alaq ayat 7: Penilaian manusia terhadap dirinya yang sebenarnya keliru

karena dia melihat dirinya serba cukup.

(Allah SWT mengabarkan tentang manusia yang akan memiliki kebahagiaan, kesombongan dan melampaui batas jika melihat dirinya telah merasa cukup dan banyak harta)

  •  Kisah Nabi sulaiman (sumber kisah-kisah nabi tafsir ibnu katsir)

Al Alaq ayat 14: Peringatan kepada manusia bahwa Allah Maha Melihat apa-apa yang dikerjakan dan kelak akan dimintai pertangungg jawabannya

 Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?

 Al Zalzalah ayat 7-8 : Setiap orang akan melihat balasan dari setiap perbuatannya

 Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

PENJELASAN TENTANG ANATOMI MATA

Diagram mata manusia.

Mata adalah organ penglihatan yang mendeteksi cahaya. Yang dilakukan mata yang paling sederhana tak lain hanya mengetahui apakah lingkungan sekitarnya adalah terang atau gelap. Mata yang lebih kompleks dipergunakan untuk memberikan pengertian visual.

Organ mata manusia

Organ luar

250px-Menschliches_auge

  1. Bulu mata berfungsi menyaring cahaya yang akan diterima.
  2. Alis mata berfungsi menahan keringat agar tidak masuk ke bola mata.
  3. Kelopak mata berfungsi untuk menutupi dan melindungi mata.

Organ dalam

hal10

Bagian-bagian pada organ mata bekerja sama mengantarkan cahaya dari sumbernya menuju ke otak untuk dapat dicerna oleh sistem saraf. Bagian-bagian tersebut adalah:

Kornea: Merupakan bagian terluar dari bola mata yang menerima cahaya dari sumber cahaya.

Sklera: Merupakan bagian dinding mata yang berwarna putih. Tebalnya rata-rata 1 milimeter tetapi pada irensi otot, menebal menjadi 3 milimeter.

Pupil dan iris :Dari kornea, cahaya akan diteruskan ke pupil. Pupil menentukan kuantitas cahaya yang masuk ke bagian mata yang lebih dalam. Pupil mata akan melebar jika kondisi ruangan yang gelap, dan akan menyempit jika kondisi ruangan terang. Lebar pupil dipengaruhi oleh iris di sekelilingnya. Iris berfungsi sebagai diafragma. Iris inilah terlihat sebagai bagian yang berwarna pada mata.

Lensa mata : Lensa mata menerima cahaya dari pupil dan meneruskannya pada retina. Fungsi lensa mata adalah mengatur fokus cahaya, sehingga cahaya jatuh tepat pada bintik kuning retina. Untuk melihat objek yang jauh (cahaya datang dari jauh), lensa mata akan menipis. Sedangkan untuk melihat objek yang dekat (cahaya datang dari dekat), lensa mata akan menebal.

Retina atau Selaput Jala :Retina adalah bagian mata yang paling peka terhadap cahaya, khususnya bagian retina yang disebut bintik kuning. Setelah retina, cahaya diteruskan ke saraf optik.

Saraf optic:  Saraf yang memasuki sel tali dan kerucut dalam retina, untuk menuju ke otak.

Sistem kerja mata

Mata manusia memiliki cara kerja otomatis yang sempurna, mata dibentuk dengan 40 unsur utama yang berbeda dan ke semua bagian ini memiliki fungsi penting dalam proses melihat kerusakan atau ketiadaan salah satu fungsi bagiannya saja akan menjadikan mata mustahil dapat melihat. Lapisan tembus cahaya di bagian depan mata adalah kornea, tepat di belakangnya terdapat iris, selain memberi warna pada mata, iris juga dapat mengubah ukurannya secara otomatis sesuai kekuatan cahaya yang masuk, dengan bantuan otot yang melekat padanya. Misalnya ketika berada di tempat gelap iris akan membesar untuk memasukkan cahaya sebanyak mungkin. Ketika kekuatan cahaya bertambah, iris akan mengecil untuk mengurangi cahaya yang masuk ke mata. Sistem pengaturan otomatis yang bekerja pada mata bekerja sebagaimana berikut.

Ketika cahaya mengenai mata sinyal saraf terbentuk dan dikirimkan ke otak, untuk memberikan pesan tentang keberadaan cahaya, dan kekuatan cahaya. Lalu otak mengirim balik sinyal dan memerintahkan sejauh mana otot di sekitar iris harus mengerut. Bagian mata lainnya yang bekerja bersamaan dengan struktur ini adalah lensa. Lensa bertugas memfokuskan cahaya yang memasuki mata pada lapisan retina di bagian belakang mata. Karena otot-otot di sekeliling lensa cahaya yang datang ke mata dari berbagai sudut dan jarak berbeda dapat selalu difokuskan ke retina. Semua sistem yang telah kami sebutkan tadi berukuran lebih kecil, tapi jauh lebih unggul daripada peralatan mekanik yang dibuat untuk meniru desain mata dengan menggunakan teknologi terbaru, bahkan sistem perekaman gambar buatan paling modern di dunia ternyata masih terlalu sederhana jika dibandingkan mata. Jika kita renungkan segala jerih payah dan pemikiran yang dicurahkan untuk membuat alat perekaman gambar buatan ini kita akan memahami betapa jauh lebih unggulnya teknologi penciptaan mata.

Jika kita amati bagian-bagian lebih kecil dari sel sebuah mata maka kehebatan penciptaan ini semakin terungkap. Anggaplah kita sedang melihat mangkuk kristal yang penuh dengan buah-buahan, cahaya yang datang dari mangkuk ini ke mata kita menembus kornea dan iris kemudian difokuskan pada retina oleh lensa jadi apa yang terjadi pada retina, sehingga sel-sel retina dapat merasakan adanya cahaya ketika partikel cahaya yang disebut foton mengenai sel-sel retina. Ketika itu mereka menghasilkan efek rantai layaknya sederetan kartu domino yang tersusun dalam barisan rapi. Kartu domino pertama dalam sel retina adalah sebuah molekul bernama 11-cis retinal. Ketika sebuah foton mengenainya molekul ini berubah bentuk dan kemudian mendorong perubahan protein lain yang berikatan kuat dengannya yakni rhodopsin.

Kini rhodopsin berubah menjadi suatu bentuk yang memungkinkannya berikatan dengan protein lain yakni transdusin. Transdusin ini sebelumnya sudah ada dalam sel namun belum dapat bergabung dengan rhodopsin karena ketidak sesuaian bentuk. Penyatuan ini kemudian diikuti gabungan satu molekul lain yang bernama GTP kini dua protein yakni rhodopsin dan transdusin serta 1 molekul kimia bernama GTP telah menyatu tetapi proses sesungguhnya baru saja dimulai senyawa bernama GDP kini telah memiliki bentuk sesuai untuk mengikat satu protein lain bernama phosphodiesterase yang senantiasa ada dalam sel. Setelah berikatan bentuk molekul yang dihasilkan akan menggerakkan suatu mekanisme yang akan memulai serangkaian reaksi kimia dalam sel.

Mekanisme ini menghasilkan reaksi ion dalam sel dan menghasilkan energi listrik, energi ini merangsang saraf-saraf yang terdapat tepat di belakang sel retina. Dengan demikian bayangan yang ketika mengenai mata berwujud seperti foton cahaya ini meneruskan perjalanannya dalam bentuk sinyal listrik. Sinyal ini berisi informasi visual objek di luar mata. Agar mata dapat melihat sinyal listrik yang dihasilkan dalam retina harus diteruskan dalam pusat penglihatan di otak. Namun sel-sel saraf tidak berhubungan langsung satu sama lain ada celah kecil yang memisah titik-titik sambungan mereka lalu bagaimana sinyal listrik ini melanjutkan perjalanannya di sini serangkaian mekanisme rumit terjadi energi listrik diubah menjadi energi kimia tanpa kehilangan informasi yang sedang dibawa dan dengan cara ini informasi diteruskan dari satu sel saraf ke sel saraf berikutnya. Molekul kimia pengangkut ini yang terletak pada titik sambungan sel-sel saraf berhasil membawa informasi yang datang dari mata dari satu saraf ke saraf yang lain.

Ketika dipindahkan ke saraf berikutnya, sinyal ini diubah lagi menjadi sinyal listrik dan melanjutkan perjalanannya ke tempat titik sambungan lainnya. Dengan cara ini sinyal berhasil mencapai pusat penglihatan pada otak, di sini sinyal tersebut dibandingkan informasi yang ada di pusat memori dan bayangan tersebut ditafsirkan akhirnya kita dapat melihat mangkuk yang penuh buah-buahan sebagaimana kita saksikan sebelumnya karena adanya sistem sempurna yang terdiri atas ratusan komponen kecil ini dan semua rentetan peristiwa yang menakjubkan ini terjadi pada waktu kurang dari 1 detik

Iklan

TUBUH MANUSIA : ANGGOTA TUBUH TANGAN

Al Lahab ayat 1 : Tangan sebagai perwakilan dari semua kebaikan dan keburukan

 Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.

 

Kisah Abu Lahab

Abu Lahab adalah paman dari Nabi SAW sendiri, saudara dari ayah beliau. Nama kecilnya Abdul ‘Uzza. Sebagai kita tahu, ‘Uzza adalah nama sebuah berhala yang dipuja orang Quraisy, Abdul ‘Uzza bin Abdul Muthalib. Nama isterinya ialah Arwa, saudara perempuan dari Abu Sufyan Sakhar bin Harb, khalah dari Mu’awiyah.  Dia dipanggilkan Abu Lahab, yang dapat diartikan ke dalam bahasa kita dengan “Pak Menyala”, karena mukanya itu bagus, terang bersinar dan tampan. Gelar panggilan itu sudah dikenal orang buat dirinya.

Dalam kekeluargaan sejak zaman sebelum Islam, hubungan Muhammad SAW sebelum menjadi Rasul amat baik dengan pamannya ini, sebagai dengan pamannya yang lain-lain juga. Tersebut di dalam riwayat seketika Nabi Muhammad SAW lahir ke dunia, Abu Lahab menyatakan sukacitanya, karena kelahiran Muhammad dipandangnya akan ganti adiknya yang meninggal dunia di waktu muda, ayah Muhammad, yaitu Abdullah. Sampai Abu Lahab mengirimkan seorang jariahnya yang muda, bernama Tsuaibah untuk menyusukan Nabi sebelum datang Halimatus-Sa’diyah dari desa Rani Sa’ad.

Dan setelah anak-anak pada dewasa, salah seorang puteri Rasulullah SAW kawin dengan anak laki-laki Abu Lahab.

Tetapi setelah Rasulullah SAW menyatakan da’wahnya menjadi Utusan Allah, mulailah Abu Lahab menyatakan tantangannya yang amat keras, sehingga melebihi dari yang lain-lain. Bahkan melebihi dari sikap Abu Jahal sendiri.

Seketika datang ayat yang tersebut di dalam Surat 26, Asy-Syu’ara, ayat 214:

“Dan beri peringatanlah kepada kaum kerabatmu yang terdekat,” keluarlah Nabi SAW dari rumahnya menuju bukit Shafa. Dia berdiri dan mulai menyeru: “Ya Shabahah!” (Berkumpullah pagi-pagi!). Orang-orang yang mendengar tanya bertanya, siapa yang menyeru ini. Ada yang menjawab: “Muhammad rupanya.” Lalu orang pun berkumpul.

Maka mulailah beliau mengeluarkan ucapannya: “Hai Bani Fulan, Hai Bani Fulan, Hai Bani Abdi Manaf, Hai Bani Abdul Muthalib!” Semua Bani yang dipanggilnya itu pun datanglah berkumpul. Lalu beliau berkata: “Kalau aku katakan kepada kamu semua bahwa musuh dengan kuda peperangannya telah keluar dari balik bukit ini, adakah di antara kamu yang percaya?”

Semua menjawab: “Kami belum pernah mengalami engkau berdusta.”

Maka beliau teruskanlah perkataannya: “Sekarang aku beri peringatan kepadamu semuanya, bahwasanya di hadapan saya azab Tuhan yang besar sedang mengancam kamu.”

Tiba-tiba sedang orang lain terdiam mempertimbangkan perkataannya yang terakhir itu bersoraklah Abu Lahab: “Apa hanya untuk mengatakan itu engkau kumpulkan kami ke mari?” “Tubbanlaka!” Anak celaka!.

Tidak berapa saat kemudian turunlah Surat ini, sebagai sambutan keinginan Abu Lahab agar Nabi Muhammad SAW anaknya itu dapat kebinasaan:

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab.” (pangkal ayat 1). Diambil kata ungkapan kedua tangan di dalam bahasa Arab, yang berarti bahwa kedua tangannya yang bekerja dan berusaha akan binasa. Orang berusaha dengan kedua tangan, maka kedua tangan itu akan binasa, artinya usahanya akan gagal: “Watabb!” – “Dan binasalah dia.” (ujung ayat 1). Bukan saja usaha kedua belah tangannya yang akan gagal, bahkan dirinya sendiri, rohani dan jasmaninya pun akan binasa. Apa yang direncanakan di dalam menghalangi da’wah Nabi SAW tidaklah ada yang akan berhasil, malahan gagal!

Menurut riwayat tambahan dari Al-Humaidi: “Setelah isteri Abu Lahab mendengar ayat Al-Qur’an yang turun menyebut nama mesjid. Beliau SAW di waktu itu memang ada di dalam mesjid di dekat Ka’bah dan di sisinya duduk Abu Bakar r.a. Dan di tangan perempuan itu ada sebuah batu sebesar segenggaman tangannya. Maka berhentilah dia di hadapan Nabi yang sedang duduk bersama Abu Bakar itu. Tetapi kelihatan olehnya hanya Abu Bakar saja. Nabi SAW sendiri yang duduk di situ tidak kelihatan olehnya. Lalu dia berkata kepada Abu Bakar: “Hai Abu Bakar, telah sampai kepada saya beritanya bahwa kawanmu itu mengejekkan saya. Demi Allah! Kalau saya bertemu dia, akan saya tampar mulutnya dengan batu ini.”

Sesudah berkata begitu dia pun pergi dengan marahnya.

Maka berkatalah Abu Bakar kepada Nabi SAW “Apakah tidak engkau lihat bahwa dia melihat engkau?” Nabi menjawab: “Dia ada menghadapkan matanya kepadaku, tetapi dia tidak melihatku. Allah menutupkan penglihatannya atasku.”

“Tidaklah memberi faedah kepadanya hartanya dan tidak apa yang diusahakannya.” (ayat 2). Dia akan berusaha menghabiskan harta-bendanya buat menghalangi perjalanan anak saudaranya, hartanyalah yang akan licin tandas, namun hartanya itu tidaklah akan menolongnya. Perbuatannya itu adalah percuma belaka. Segala usahanya akan gagal.

Menurut riwayat dari Rabi’ah bin ‘Ubbad Ad-Dailiy, yang dirawikan oleh Al-Imam Ahmad: “Aku pernah melihat Rasulullah SAW di zaman masih jahiliyah itu berseru-seru di Pasar Dzil Majaz: ‘Hai sekalian manusia! Katakanlah ‘Laa Ilaha Illallah,’ (Tidak ada Tuhan melainkan Allah), niscaya kamu sekalian akan beroleh kemenangan.’”

Orang banyak berkumpul mendengarkan dia berseru-seru itu. Tetapi di belakangnya datang pula seorang laki-laki, mukanya cukup pantas. Dan dia berkata pula dengan kerasnya: “Jangan kalian dengarkan dia. Dia telah khianat kepada agama nenek-moyangnya, dia adalah seorang pendusta!” Ke mana Nabi SAW pergi, ke sana pula diturutkannya. Orang itu ialah pamannya sendiri, Abu Lahab.

Menurut riwayat dari Abdurrahman bin Kisan, kalau ada utusan dari kabilah-kabilah Arab menemui Rasulullah SAW di Makkah hendak minta keterangan tentang Islam, mereka pun, ditemui oleh Abu Lahab. Kalau orang itu bertanya kepadanya tentang anak saudaranya itu, sebab dia tentu lebih tahu, dibusukkannyalah Nabi SAW dan dikatakannya: “Kadzdzab, Sahir.” (Penipu, tukang sihir).

Namun segala usahanya membusuk-busukkan Nabi itu gagal jua!

“Akan masuklah dia ke dalam api yang bernyala-nyala.” (ayat 3). Dia tidak akan terlepas dari siksaan dan azab Allah. Dia akan masuk api neraka. Dia kemudiannya mati sengsara karena terlalu sakit hati mendengar kekalahan kaum Quraisy dalam peperangan Badar. Dia sendiri tidak turut dalam peperangan itu. Dia hanya memberi belanja orang lain buat menggantikannya. Dengan gelisah dia menunggu berita hasil perang Badar. Dia sudah yakin Quraisy pasti menang dan kawan-kawannya akan pulang dari peperangan itu dengan gembira. Tetapi yang terjadi ialah sebaliknya. Utusan-utusan yang kembali ke Makkah lebih dahulu mengatakan mereka kalah. Tujuh puluh yang mati dan tujuh puluh pula yang tertawan. Sangatlah sakit hatinya mendengar berita itu, dia pun mati. Kekesalan dan kecewa terbayang di wajah jenazahnya.

Anak-anaknya ada yang masuk Islam seketika dia hidup dan sesudah dia mati. Tetapi seorang di antara anaknya itu bernama Utaibah adalah menantu Nabi, kawin dengan Ruqaiyah. Karena disuruh oleh ayahnya menceraikan isterinya, maka puteri Nabi itu diceraikannya. Nabi mengawinkan anaknya itu kemudiannya dengan Usman bin Affan. Nabi mengatakan bahwa bekas menantunya itu akan binasa dimakan “anjing hutan”. Maka dalam perjalanan membawa perniagaan ayahnya ke negeri Syam, di sebuah tempat bermalam di jalan dia diterkam singa hingga mati.

“Dan isterinya.” (pangkal ayat 4). Dan isterinya akan disiksa Tuhan seperti dia juga. Tidak juga akan memberi faedah baginya hartanya, dan tidak juga akan memberi faedah baginya segala usahanya: “Pembawa kayu bakar.” (ujung ayat 4).

Sebagai dikatakan tadi nama isterinya ini Arwa, gelar panggilan kehormatannya sepadan dengan gelar kehormatan suaminya. Dia bergelar Ummu Jamil: Ibu dari kecantikan! Dia saudara perempuan dari Abu Sufyan. Sebab itu dia adalah ‘ammah (saudara perempuan ayah) dari Mu’awiyah dan dari Ummul Mu’minin Ummu Habibah. Tetapi meskipun suaminya di waktu dulu seorang yang tampan dan ganteng, dan dia ibu dari kecantikan, karena sikapnya yang buruk terhadap Agama Allah kehinaan yang menimpa diri mereka berdua. Si isteri menjadi pembawa “kayu api”, kayu bakar, menyebarkan api fitnah ke sana sini buat membusuk-busukkan Utusan Allah.

“Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (ayat 5).

Ayat ini mengandung dua maksud. Membawa tali dari sabut, artinya, karena bakhilnya, dicarinya kayu api sendiri ke hutan, dililitkannya kepada lehernya, dengan tali daripada sabut pelepah korma, sehingga berkesan kalau dia bawanya berjalan.

Tafsir yang kedua ialah membawa kayu api ke mana-mana, atau membawa kayu bakar. Membakar perasaan kebencian terhadap Rasulullah mengada-adakan yang tidak ada. Tali dari sabut pengikat kayu api fitnah, artinya bisa menjerat lehernya sendiri.

Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya bahwa Tuhan menurunkan Surat tentang Abu Lahab dan isterinya ini akan menjadi pengajaran dan i’tibar bagi manusia yang mencoa berusaha hendak menghalangi dan menantang apa yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya, karena memperturutkan hawa nafsu, mempertahankan kepercayaan yang salah, tradisi yang lapuk dan adat-istiadat yang karut-marut. Mereka menjadi lupa diri karena merasa sanggup, karena kekayaan ada. Disangkanya sebab dia kaya, maksudnya itu akan berhasil. Apatah lagi dia merasa bahwa gagasannya akan diterima orang, sebab selama ini dia disegani orang, dipuji karena tampan, karena berpengaruh. Kemudian ternyata bahwa rencananya itu digagalkan Tuhan, dan harta-bendanya yang telah dipergunakannya berhabis-habis untuk maksudnya yang jahat itu menjadi punah dengan tidak memberikan hasil apa-apa. Malahan dirinyalah yang celaka. Demikian Ibnu Katsir.

Dan kita pun menampak di sini bahwa meskipun ada pertalian keluarga di antara Rasulullah SAW dengan dia, namun sikapnya menolak kebenaran Ilahi, tidaklah akan menolong menyelamatkan dia dari siksa Allah


Selain bernama “Al-Lahab” (nyala) Surat ini pun bernama “Al-Masadd”, yang berarti tali yang terbuat dari sabut itu. Beberapa faedah dan kesan kita perdapat dari Surat ini.

Pertama: Meskipun Abu Lahab paman kandung Nabi SAW saudara kandung dari ayahnya, namun oleh karena sikapnya yang menantang Islam itu, namanya tersebut terang sekali di dalam wahyu, sehingga samalah kedudukannya dengan Fir’aun, Haman dan Qarun, sama disebut namanya dalam kehinaan.

Kedua: Surat Al-Lahab ini pun menjadi i’tibar bagi kita bagaimana hinanya dalam pandangan agama seseorang yang kerjanya “membawa kayu api”, yaitu menghasut dan memfitnah ke sana ke mari dan membusuk-busukkan orang lain. Dan dapat pula dipelajari di sini bahwasanya orang yang hidup dengan sakit hati, dengan rasa kebencian kerapkalilah bernasib sebagai Abu Lahab itu, yaitu mati kejang dengan tiba-tiba bilamana menerima suatu berita yang tidak diharap-harapkannya. Mungkin juga Abu Lahab itu ditimpa oleh penyakit darah tinggi, atau sakit jantung.

TUBUH MANUSIA I: Penciptaan Kembali Setelah Kematian (pengantar)

Muthaffifin ayat 4 : manusia diciptakan lagi dialam lain yang pasti dengan hukum yang berbeda

 Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,

An Naziat ayat 27 : Penyadaran kepada manusia untuk tidak sombong, karena disamping penciptaanya ada yang lebih rumit (penciptaan langit lebih rumit dari penciptaan manusia)

 Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya,

Asy Syams ayat 7 : Allah tidak akan bersumpah dengan mahluk kecuali mahluk itu agung dan mulia

 dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),

Al Buruj ayat 13: Allah yang memulai penciptaan dan kemudian Allah yang mengembalikannya lagi seperti sediakala tanpa ada yang menghalangi

 Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali).