The winner is the best????

Saya bukan seorang phisikolog, hanya ibu dari 2 orang balita dan 1 bayi. Tulisan ini saya tulis sebagai catatan saya untuk tidak lupa.

Ketika akbar (anak pertamaku) sedang bermain dengan temannya, saya sering kali mendengar kata “aku yang menang” atau “aku yang duluan, bukan kamu”.  Tadinya kata-kata ini menurut saya biasa saja tidak ada maksud buruk karena diucapkan oleh anak berusia 5 tahun. Tapi hari-hari berikutnya kata-kata itu mulai sering saya dengar dari Akbar sendiri ketika bermain dengan Nisa (anak keduaku).

Saya perhatikan dari perkembangan anak-anak saya ada tahap “menjaga kekuasaan”. Jadi ketika terjadi perebutan mainan, kata-kata ” aku yang duluan” itu terdengar dari Akbar dan Nisa. Rebutan mainan jadi ajang adu kekuatan, persaingan mainan siapa yang lebih banyak. Rasanya aku kok yah ngga pernah mengajarkan ini yah ke mereka. Belum lagi ketika akan mandi. Sekarang kata-kata “aku yang duluan” jadi sering terdengar.. Tadinya aku pikir bagus nih, mandinya jadi cepat, ngga pake lama. Begitu juga ketika makan, kata-kata itu juga sering terdengarn sehingga kadang salah satu tersendak karena terlalu cepat menelan biar makanannya tidak direbut.

Dari awal merasa suka, lama-lama saya jadi tidak suka dengan cara ini, dengan kata-kata ini dan persaingan yang ditimbulkan dari permainan mereka. Mereka tidak seperti menikmati apa yang sedang mereka lakukan baik itu makan, minum, mandi dll. Runut-runut punya runut….saya sadar sepertinya selain dari pengaruh lingkungan, saya dan suamilah biang keladinya.

Saya ingat kerap mengatakan “kakak lama nih makannya nanti dibalap adek loh” atau “adek kalau malas makan nanti ngga gede-gede loh kayak kakak”. Intinya saya selalu memberikan pembanding untuk memotivasi mereka agar mau melakukan apa yang saya minta atau agar mereka lebih cepat melakukan aktivitas tertentu. Kami menjadikan mereka untuk cepat bergerak, tidak sabar dalam aktivitas apapun. semuanya tanpa sadar kami lakukan agar aktivitas mereka dapat disesuaikan dengan aktivitas kami yang padat.

Kami lah sebenarnya yang telah menyebabkan mereka tidak sabar menunggu giliran, menanamkan bahwa segala sesuatu adalah persaingan. Yang lebih besar, yang lebih cepat, yang lebih pintar, yang lebih banyak….semuanya. Hasilnya anak-anak saya sudah mulai bersaing dari usianya yang dini tanpa mereka mengerti. Mungkin juga itu adalah bagian dari fitrah manusia untuk punya suatu kebanggaan. Well tapi sepertinya saya salah mengajarkannya.

Setelah menelaah ke belakang saya sadar seharusnya hidup adalah proses menikmati, menjalani bukan persaingan…it’s about passion.  Saya berpikir demikian karena pada akhirnya persaingan yang kita ciptakan tidak membawa kita kemana-mana selain kenikmatan semu. Justru dengan menikmati proses hidup dari tidur, mandi, makan, bekerja bahkan bernafas sekalipun adalah kenikmatan. Bukan berarti kita tidak perlu motivasi. Tapi motivasi yang ditanamkan harusnya bukan tentang persaingan, bukan dengan pertandingan.

Dulu ketika saya kecil, salah satu motivasi orang tua saya adalah persaingan. Bukan dengan saudara kandung saya tapi pada orang-orang lain di masa depan saya. Saya harus bisa bersaing dengan orang lain untuk bisa bertahan hidup dan mendapatkan hidup yang lebih baik. Tidak harus menjadi yang “ter” tapi tidak menjadi yang paling bawah. Jadinya saya memang tidak menikmati setiap kegiatan pendidikan sejak saya SD hingga saya SMA. Hasilnya pun saya juga bukan yang terbaik tapi tidak ada pada bagian “normal kebawah”.

Kalau saya ingat, masa pendidikan yang saya nikmati adalah kelas 3 SMA. Saya ngga tahu kenapa tapi saat itu adalah masa dimana saya merasa tanpa beban. Padahal saya belajar lebih giat setiap hari untuk bisa lulus dengan nilai yang bagus dan masuk diterima di PTN melalui jalur UMPTN. Pilihannya hanya ada 1 yaitu UI. Harusnya bebannya lebih banyak. Tapi saya tidak merasa ada beban, saya sangat menikmatinya, bahkan masih ada waktu main dengan teman-teman. Berbeda dengan sebelum-belumnya, saya tidak bisa menikmati proses pendidikan dan pelajaran yang diberikan, bermain dengan teman-teman juga tidak bisa benar-benar saya nikmati. Selalu ada rasa takut. Iya…rasa takut. Rasa takut itu hilang ketika saya naik kelas 3,setelah apa yang saya takutkan (dulu pengennya dapat IPA tapi dapatnya malah kelas IPS) terjadi. Karena dulu ada doktrinasi bahwa siswa dari kelas IPA lebih pintar dan lebih berhasil ketimbang dari jurusan lain. Setelah mimpi buruk itu terjadi, saya malah tenang menghadapi yang lain. Alhasil saya lulus dengan nilai yang bagus dan diterima di PTN UI.

Seharusnya pengalaman ini menjadi landasan bagi saya untuk membimbing anak-anak saya. Saya harus lebih dulu menikmati saat-saat membimbing mereka. Tanpa alasan dengan rutinitas saya yang lain dalam mengurus rumah. Yup saya lah yang harus lebih dulu menikmatinya dengan mata, telinga dan tangan saya, with all my heart. Sesuai dengan ajaran Rasulullah  mencontohkan dalam mendidik anak. Lemah lembut dan memberikan ruang bagi mereka untuk mencoba. Ruang dalam arti kesempatan dan waktu. Motorik mereka belum sempurna jadi kita haru melatihnya dengan kesempatan dan waktu yang berulang-ulang.

Saya harusnya membimbing mereka untuk menikmati saat makan dan makanannya, saat mandi dan main airnya, saat belajar dan pertanyaannya yang suka aneh dan saat bermainnya. Belajar dalam segala hal dari kemampuan untuk menolong diri sendiri, emosi dan juga kognitif. Dan tentu yang mereka sukai. Seharusnya saya mengajarkan mereka untuk tenang menjalaninya tanpa menanamkan rasa takut untuk menjadi “kalah”. Menjadi yang terbaik bukan sama dengan “menang”.

Bukankah Allah SWT berfirman bahwa orang yang terbaik diantara kamu adalah orang yang paling baik imannya. (secara garis besar ya ini artinya, aku ndak hapal detail). Jadi be the best adalah karena landasan iman…bukan landasan siapa yang juara….tidak ada yang bisa menentukan juara dalam iman bukan.
So…enjoy your life. mengeluh dan marah hanya akan membuang energi dan waktu saya dengan percuma.

Bantahan Breastfeeding for best

Beberapa waktu lalu pernah baca blog luar yang tidak setuju dengan slogan yang digencarkan di US tentang breastfeeding. Berdasarkan blog tersebut tidak semua orang bisa melakukannya dengan bahagia, baik untuk si ibu maupun sang bayi.

Sepertinya si penulis memahami bahwa breastfeeding memang yang terbaik terutama untuk masa 6 minggu pertama. Pengen banget balas blog itu tapi sayang ngga bisa menulis dengan ingris yang baik. hueheheheh
Disini ajalah yah. Aku setuju dengan slogan breastfeeding for best dan setuju tidak semua orang bisa melakukannya, dalam arti mungkin ASInya memang tidak banyak, mungkin hanya tersedia hanya beberapa bulan pertama dalam kehidupan si bayi. Tapi bukan berarti kita tidak berusaha toh.
Dalam tulisan tersebut si penulis bercerita tentang temannya yang berusaha untuk memberikan ASI kepada bayinya. Tapi baik ibu dan si bayi sepertinya tidak nyaman, dalam arti keduanya sering mengalami stress ketika dalam proses menyusui. Sebelum 6 minggu berakhir, dengan kesepakatan suami, akhirnya mereka mulai menggunakan SUFOR. Dan ternyata si bayi sangat menyukainya dan ibu pun tidak stress lagi.
Berdasarkan pengalaman ku menyusui ketiga anakku, semuanya mengalami masa adaptasi. Baik aku dan anak-anakku ketika mereka berusia dibawah 5 bulan. Tiada saat dimana baik saya dan bayi saya mengalami ketidak harmonisan. Bingung mau pake kata-kata yang tepat. Yang jelas saya sering mengalami amukan dari mereka setiap proses menyusui berlangsung, Terkadang mereka menangis, memukul membuang muka, bahkan terkadang wajah saya ditendangnya. Umumnya saat 10 menit pertama. Dan jika saya perhatikan umumnya mereka kesal jika si frontmilk sedang keluar, atau posisi yang kurang nyaman untuk mereka, atau mereka sudah kenyang tapi hanya ingin ngem peng. Saya dan bayi-bayi saya memerlukan waktu untuk beradaptasi hingga kami menemukan jalan keluar yang baik pada setiap kondisi ketika proses menyusui.
Jadi sangat tidak benar jika menyusui itu mudah, terutama 5 bulan pertama. Justru berat sekali loh. Tapi itulah seninya. Saat 5 bulan pertama itu masa dimana baik ibu dan bayi saling beradaptasi, saling mengenali sifatnya masing-masing. dan saya merasa itu bagian dari pembelajaran. Coba kuda aja baru lahir sudah disuruh untuk belajar berdiri. Nah karena anak kita bukan kuda dan sudah ditentukan memerlukan waktu yang lebih lama untuk tumbuh berkembang, sudah barang tentu adaptasi dan mengatasi tantangan itu perlu waktu mingguan dan bulanan. Dan itu pula yang menurut saya bagian dari membangun karakter. Gigih. ya, gigih dalam mengatasi masalah, masalah kekurangan, masalah tidak nyaman dan masalah lain dan paling utama gigih dalam mencari jalan keluar.
Manusia sudah diajarkan untuk berusaha gigih sejak mereka dalam kandungan. Berusaha untuk mencari jalan keluar untuk bisa lahir, berusaha menyusu, berusaha melihat dan mengenal dunia barunya. Jadi Allah sudah menetapkan semua itu sebagai bagian dari sistem fase hidup manusia. Semua proses alamiah itu sudah diciptakan dengan tujuan.
Jadi para ibu yang sedang menanti buah hatinya, atau mereka yang baru saja melahirkan dan sedang mengalami adaptasi dengan buah hatinya, jangan meyerah untuk memberikan ASI. Bulatkan tekad dan yakin ini untuk masa depan anak-anak kita. Jangan jadikan mereka generasi instant. Biarkan mereka berusaha mencari jalan keluar untuk dapat menyusu (terutama bagi flat nipple). Dan para ibu bertahanlah walau sakit mendera ketika proses menyusui berlangsung, karena rasa sakit itu akan segera hilang. Anda akan merasa begitu indah ketika melihat mereka menyusu. dan dimasa datangpun mereka juga lebih dekat pada anda.