Perencanaan perlengkapan bayi

Akhirnya bisa juga menulis lagi. Setelah beberapa bulan beradaptasi dengan kegiatan yang bertambah dengan hadirnya anggota baru dalam keluarga kami, ini anak ke-empat kami Hanifah. Sangat menyenangkan ada bayi yang menghibur dikala mumet dengan si kakak dan rumah ūüôā .

IMG_6434_Snapseed

Ada banyak ide ingin dituangkan sehubungan dengan anak-anak, bagian dari kegiatanku sehari-hari sebagai ibu rumah tangga full time dirumah. Tulisan ini hadir setelah menjalaninya bersama ketiga anak pertamaku dan setelah kehadiran anak keempat barulah bisa terpetakan apakah yang sebetulnya perlu disiapkan dan juga benar-benar diperlukan. Perlu ada perencanaan khusus karena kita harus menimbang pengeluaran dan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga bermanfaat.

Tulisan ini akan terbagi dari beberapa bagian yaa…

Ketika melahirkan anak pertama, saya tidak mempunyai pertimbangan apakah yang harus saya siapkan selain dari apa yang pernah dijalani kakak saya dan ibu saya. Begitu pula ketika anak kedua lahir. Yang saya tahu saat itu adalah membeli karena memang persediaanya kurang. Ketika anak ke tiga lahir barulah saya menimbang perlukah saya membelinya atau tidak dengan alasan:

  1. akankah bermanfaat setiap hari, setiap minggu atau hanya sesekali saja
  2. akankah dapat bertahan cukup lama atau tidak, artinya apakah dapat diturunkan kepada adik, sepupu dll. Jadi barang tersebut tidak cepat rusak sehingga tidak menumpuk tanpa manfaat dan menjadi sampah.
  3. juga bagaimana dengan perencanaan keuangannya. Apakah barang tersebut mempunyai pengganti dengan masa manfaat yang sama panjang tetapi lebih ekonomis, ataukan dapat dibuat sendiri. Jujur saja perlengkapan bayi yang berkualitas tidaklah berharga murah. Akan lebih baik jika dana yang ada ditempatkan untuk biaya pendidikan bukan!

Setelah anak ke-empat barulah saya menemukan perlengkapan apa saja yang sebenarnya saya perlukan untuk memudahkan pekerjaan saya sehari sehubungan dengan perlengkapan bayi dimana saya lebih sering merawat mereka sendiri sambil mengerjakan seluruh pekerjaan rumah (lebih sering tidak punya asisten tetap soalnya).

Popok Kain

DCO all

Popok kain merupakan alat tempur yang sangat saya andalkan dalam merawat bayi-bayi saya dari mereka newborn hingga lulus toilet training.  Popok kain yang saya punya tidak semuanya popok kain modern, sebagian lagi hanya popok kain biasa atau tradisional yang juga sama manfaatnya dengan yang modern. Ketika saya memutuskan untuk beralih menggunakan popok kain adalah ketika anak ketiga saya lahir (anda bisa membacanya disini). Popok kain ini adalah penyelamat dalam meringkas pekerjaan dan biaya bulanan, apalagi saat ini anak ketiga saya belum bisa untuk toilet training (saya terlalu sibuk soalnya :P) dan juga si adik yang baru usia 3 bulan (ingin mengenalkan EC tapi tenaga kok ngga ada yaaaa :P).

Sebagian besar popok kain yang saya koleksi adalah popok kain tradisional yang bisa sangat diandalkan saat musim hujan, diare atau perjalanan sekalipun digabung dengan popok kain modern . Bahkan merupakan warisan dari anak pertama saya. Saya sudah tidak pernah lagi membeli popok sekali pakai (sering disebut pampers yaa) sejak usia anak ketiga saya 5 bulan, dan sekarang sudah menginjak 2.5 tahun. Sebagian besar popoknya masih bisa dipakai si adik juga. Silahkan anda hitung berapa banyak biaya dan waktu yang saya selamatkan dengan menggunakan popok kain. Belum lagi sampah dari popok sekali pakai yang kotor ditempat sampah.  Tulisan tentang popok kain akan saya buat terpisah yaa.

Baby wrap

249708_218068541545481_122213717797631_825374_714053_n

Saya adalah ibu rumah tangga yang selalu dirumah dan lebih sering mengerjakan semua pekerjaan tanpa asisten, karenanya untuk bisa multi fungsi di saat bersamaan antara mengurus bayi dengan pekerjaan lainnya saya memerlukan alat yang dapat menggendong anak saya dari baru lahir dengan posisi yang nyaman baik untuk saya dan sang bayi dan juga kuat, dan tangan saya dapat bergerak kesana kemari sambil mengerjakan tugas lain termasuk mengejar si kakak yang sangat aktif.

Karena itu saya memilih baby wrap, saya menggunakan bobita wrap. Bahannya sangat nyaman stretchy dan kuat. jadi tidak terlalu panjang ketika digunakan. Ketika pertama kali menggunakan baby wrap ini terasa sulit bin ribet, tetapi setelah sering menggunakannya ternyata tidak sesulit ketika pertama kali plus juga mengurangi rasa pegal seperti ketika menggunakan model sling. Saya bukan orang yang bisa menggunakan kain jurik ataupun model sling lainnya, karena beban yang bertumpu pada sebelah bahu membuat saya sulit mengerjakan pekerjaan lain saat bersamaan menggendong dan juga membuat bahu cepat terasa pegal, apalagi dengan kain jurik…. kok melorot terus yaaa.

Slubber, blurp cloth dan bib ataupun baby apron

65781498e560294c6814fafd65fc9514

Anda pasti bertanya mengapa slubber, blurp cloth dan bib merupakan barang wajib yang kita perlukan. Benda-benda ini adalah penyelamat dalam mengurangi pekerjaan dalam mengganti pakaian kotor dan waktu yang lama dalam membersihkah pakaian bayi (bahkan balita) ketika mencuci. Noda makanan dan minuman sangat dulit dibersihkan. Ketika anak-anak masih 0-6 bulan, proses pemasangan baju selalu menjadi moment menangis, sedangkan baju mereka pada bagian dada depan dan leher sangat sering basah baik karena gumoh atau pun air liur mereka. Slubber dan blurp cloth merupakan barang yang wajib dimiliki dengan persediaan yang banyak. Kulit bayi sangat sensitif, sehingga pakaian basah terlalu lama akan menyebabkan ruam. Lebih baik mencegah dari pada mengobati bukan. Saya sedang berpikir untuk membuatnya agar bisa digunakan si kakak juga. Noda susu coklat sangat susah dibersihkan. Bisa anda bayangkan berapa banyak waktu dan pakaian yang harus dimiliki untuk urusan basah-basahan ini.

Swaddle

541121_10150797561071477_703716476_11583292_387939769_n

Dulu ketika anak pertama dan kedua, saya hanya mengenal bedong tradisional yang terbuat dari kain flannel yang dipasang melilit menutupi seluruh tubuh bayi agar mereka merasa nyaman terdekap seperti dalam perut ibu, juga agar mereka tidak mudah terkejut yang sering mengganggu tidur mereka. Cara menggunakannya juga sering membuat frustasi, apalagi bedong sekarang lebih kecil dari pada bayi saya. Jadi tangannya tertutup, kakinya terbuka deh. Belum lagi pada saat anak pertama dan kedua, saya hanya menggunakan pospak saat berpergian dan tidur malam, jadi persediaan bedong sangat banyak. what a waste.

Bedong model swaddle atau disini dikenal dengan bedong instan sangat mudah digunakan, frustasi karena menggunakan bedong tradisional sudah tidak ada. Harganya lebih mahal daripada bedong tradisional, tapi saya tidak memiliki banyak. Dengan menggunakan popok kain modern (maupun tradisional)  4 buah bedong instan sudah cukup digunakan sehari-hari juga lebih nyaman karena terbuat dari bahan katun lembut terutama bagi saya yang tinggal di Jakarta dan tanpa AC.

Kekurangan dari swaddle adalah tidak dapat digunakan lama, umumnya hanya hingga bayi berat 6 kg.  Saat ini sudah ada model baru yang dikeluarkan untuk mengatasinya, yaitu bobita 2 in 1 pouch.  Hadir tanpa lengan sehingga dapat digunakan sebagai sleeping bag di tempat yang berhawa panas dan bayi dapat bergerak bebas dan dapat menjadi swaddle dengan tambahan kain untuk membungkus lengan si bayi sperti menggunakan swaddle biasa.

Baju Onesize 

Saya suka dengan baju-baju onesize atau mungkin disini lebih sering disebut dengan jumper atau bodysuit. Baju ini mudah dikenakan dan dlebih rapi, terutama ketika bayi sudah mulai senang menendang, berguling dll. Sehingga perutnya tidak tersingkap. Jika ingin membuat kakinya tetap hangat dan terlindungi, biasanya saya berikan leg warmer, untuk memudahkan saya dalam mengganti popok kainnya tanpa harus mengganti baju atau celananya. Baju ini mempunya size untuk setiap bulan.

Bouncher

Bouncher  adalah sejenis tempat duduk yang dapat digerakan dengan lembut sehingga bayi dapat merasa tenang. Anak-anak saya sangat menyukainya terutama ketika usianya 1 bulan hingga 7 bulan. Alat ini adalah penolong saya dalam menidurkan bayi saya tanpa harus digendong. atau bisa saya titipkan ke kakaknya untuk goyangkan ketika saya sibuk dengan pekerjaan rumah yang tidak bisa saya tinggal.

Carrier

Carrier  merupakan gendongan yang praktis yang dapat dikenakan sejak bayi sudah dapat didudukan dengan kepalanya tegak.  Tidak senyaman baby wrap, tapi sangat membantu untuk bayi yang sudah besar dan senang bergerak. Dari pengalaman saya dengan carrier impor yang original (heheheh sombong nih, maaf aku tidak nyaman dengan narsis membeli barang bermerk tapi KW. karena bagaimanapun itu artinya pembajakan, dan saya sebagai pribadi akan marah, sedih dan murka jika sendainya hasil cipta saya diberlakukan seperti itu), kembali ke carrier impor saya, ternyata tidak nyaman untuk anak-anak saya karena ukurannya. Mungkin karena carrier impor jadi ukurannya lebih besar dari bayi saya, sehingga untuk berat dibawah 10 kg lebih nyaman dengan baby wrap daripada carrier.

Sekarang sudah ada beberapa brand carrier Indonesia yang bisa menjadi pilihan dan berkualitas antaranya Bobita Carrier dan Cuddleme. Dari hasil review produk tersebut bagus dan diterima baik dipasar lokal.

Stroller

Salah satu perlengkapan bayi yang wajib saya punya adalaha stroller.  Stroller merupakan penolong saya dalam melakukan aktivitas saya dipagi hari, dari mengantar kakak sekolah, belanja sayur dan jalan pagi untuk olahraga saya pribadi. Karena umumnya aktivitas itu saya lakukan secara rutin dan seiring waktu berat bayi saya bertambah sehingga tidak mungkin saya menggendong bayi saya dengan carrier atau baby wrap, sambil berbelanja. (beli sayurnya ditukang sayur yang buka lapak sekitar 500m dari rumah). Karenanya saya membeli stroller yang nyaman untuk anak saya juga kokoh untuk digunakan lama.

Jika bunda berencana membeli stroller, pilihlah stroller yang kokoh, mudah dilipat dan disimpan, mempunya roda yang kuat dan mudah dibersihkan. Bisa dipastikan lebih mahal, dengan harga hampir 1 juta rupiah, namun dapat digunakan lebih lama. Tidak perlu membeli ketika bayi baru lahir. Bayi baru lahir belum memerlukan stroller. Stroller lebih diperlukan bagi bayi yang sudah dapat duduk dengan kepala tegak. Sebagian bayi baru lahir takut jika dinaikan kedalam stroller, mereka lebih nyaman dalam gendongan.

Jadi siapkan budget.

Iklan

It’s time to take a breath

Hehehe, bukan berarti ini waktunya beristirahat. Tapi ini waktunya untuk belajar dan melihat dengan seksama sebelum melanjutkan perjalanan saya lagi. Yes…saat ini saya lagi mentoggg”. heheh benar-benar mentok. Less power, less time dan less capital. yup semuanya sedang menipis, bukan berarti habis, tapi benar-benar tipis, sampai terkadang terpikir sudah waktunya saya berhenti dan mencari jalan lain yang lebih nyaman untuk saya lalui.

Tapi saya tidak suka berhenti sebelum saya menyelesaikan perjalanan saya, dan beberapa perjalanan yang masih dan akan saya lalui tidak bisa saya tinggalkan dan saya menyukai naik dan turunnya, bahkan kadang jalan mendatarnya membuat saya mengantuk.
Saya menganggap kehidupan yang saya lalui adalah sebuah perjalanan, yah perjalanan hingga waktunya berakhir nanti tiba.

I think its time to take a breath. Sepertinya sudah waktunya untuk melihat ke belakang, mempelajari apa yang sudah tertinggal atau terpisah, apa yang sudah bisa saya bawa, apa yang sudah saya capai…dan tentu apa saja kesalahan yang sudah saya lakukan. Tomorrow should be better.

Seperti biasa, jika sudah ‘mentok’ saya pasti bengong dan kosong. Tidak tahu harus bagaimana lagi berbuat untuk mengisi bekal untuk perjalanan saya yang sekarang melaju dengan lambat. Benar-benar lambat, hampir berhenti…makanya saya bilang diatas sedang tipiiiissssss. Yang bisa saya perbuat hanya berjalan pelan sambil melakukan rutinitas biasa yang masih bisa saya kerjakan dengan tenaga, waktu dan modal yang masih tersisa. Berharap atas apa yang masih bisa saya kerjakan ini bisa menjadi nilai tambah lagi bagi saya di kemudian hari.

Saya masih punya cita-cita, mimpi yang ingin saya wujudkan…..dan saya sudah merintisnya. Saya hampir menyerah….tapi hati saya tidak rela untuk menyerahkan mimpi ini. Yup….saya masih penasaran untuk bisa mewujudkannya tapi …kembali lagi saya sedang mentok. saya tidak tahu harus bagaimana. seperti tulisan ini yang terus-terusan mentok.  heheheh

Ok….. coba dilihat apa yang sudah saya tinggalkan dari perjalanan saya, yang paling mengesankan untuk saya.

  1. Pekerjaan nyaman di comfortzone yang sudah saya lakukan semalam 5 tahun. Terkadang saya rindu teman-teman saya. Saya suka ketegangan dengan pekerjaan saya…sampai terkadang muakkkk ingin muntah. (ngga nyambung yah) tapi begitulah adanya.
  2. Teman-teman saya. I miss them.
  3. Rumah besar tempat saya tumbuh hingga saya menikah.
  4. Almarhum papa, yang sudah mendidik saya menjadi wanita seperti sekarang.
  5. Asisten-asisten yang sudah silih berganti membantu saya mengurus rumah tangga dan anak-anak.

Banyak juga ternyata yang sudah terpisah dari saya. Ok sekarang apa yang masih ada bersama saya.

  1. Suami dan anak-anak yang sangat mencintai saya.
  2. Rumah tempat saya tinggal untuk mandiri sebagai istri dan ibu yang sesungguhnya.
  3. Mama, saya berharap dia akan selalu ada menemani saya dari jauh di rumah besar. Saya butuh senyumnya.
  4. Waktu…saya masih punya waktu untuk bisa bersama suami, anak-anak dan orang-orang lain yang saya cintai dan masih bisa melayani mereka semampu saya.
  5. Tetangga yang baik dan penuh kehangatan dan perhatian. Alhamdulillah saya bisa tinggal dilingkungan yang baik dan islami.
  6. Most of all…..ALLAH SWT. ALLAH SWT yang telah memberikan semuanya pada saya dan membuat saya tidak pernah berputus asa atas pertolongannya. Berdoa dan mengadu kepadaNya selalu membuat saya kembali bersemangat menghadapi ujian hidup.

Rasanya ringan sekali dan segar. Setelah merenung dan mempelajari apa saja yang telah terpisah dari saya dan masih ada bersama saya sekarang ini, saya merasa kembali bersemangat untuk tetap mewujudkan mimpi saya. Entah berhasil atau tidak, yang jelas saya sudah berusaha semampu saya. Apa yang telah terpisah dari saya sebagian adalah takdir sebagian lagi adalah pilihan saya. Saya melakukannya untuk diri saya, karena saya ingin memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang saya cintai dan mencintai saya, yang masih bersama saya, sesuai dengan kodrat saya sebagai anak, istri dan ibu terutama sebagai wanita. Dan sebagai sahabat saya ingin membaginya melalui tulisan. I love you all. Dont’ give up guys!!! Just take a breath and start to make your dream come true.

AlhamduliLLah. Semangat saya sudah kembali. SubhanaLLah.

Menyiapkan Landasan untuk Turbulensi Keluarga

Membina rumah tangga dengan segala pasang surutnya diibaratkan bahtera yang sedang melarung di samudera kehidupan. Adakalanya langit cerah memayungi dan ombak melaju tenang, perlahan tapi pasti mendorong bahtera menuju tanjung harapan. Di lain waktu, langit gelap hitam pekat dan amuk badai menerjang. Tak pelak lagi, bahtera terguncang hebat nyaris terhempas karam. Pada kondisi seperti ini nahkoda tak mungkin tinggal diam. Kepiawaiannya dipertaruhkan. Sekuat tenaga ia bertarung melawan ketakutannya sekaligus membuat bahtera bertahan dan terus malaju melanjutkan perjalannya. Tujuannya hanya satu, agar semua penumpang selamat sampai ke tujuan.
Ilustrasi di atas dapat disimpulkan bahwa bekal terpenting seorang kepala rumah tangga adalah kesegeraan, ketegasan dan cermat mengambil langkah-langkah penyelesaian ketika prahara silih berganti menghampiri biduk rumah tangganya. Dan sinilah pentingnya sebuah persiapan untuk menghadapi permasalahan. Bukan berharap badai datang menerpa, tapi ketika badai datang kita sudah lebih dahulu tahu langkah-langkah seperti apa yang harus kita lakukan.
Dalam surat An Nisa ayat 59 Allah SWT memberikan arahan kepada kita ketika mengalami prahara dan turbulensi dalam rumah tangga. Sebenarnya ayat ini merupakan kaidah umu dari sebuah permasalahan.
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri diantara kamu. Kemudiaan jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya . (QS An Nisa: 59)
Ayat kedua utnuk solusi prahara rumah tangga, di surat An Nisa ayat 35:
Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS An-Nisa: 35)
Ketika permasalahan rumah tangga itu datang, menjadi prahara besar maka setiap kita baik suami maupun isteri harus memiliki kesadaran penuh mengembalikan semua solusi hanya kepada allah SWT. Jadikan al Quran sebagai muara rujukan semua permasalahan yang terjadi dalam biduk rumah tangga. Tidak membawa ego masing-masing. Semua pihak mengikhlaskan dan ridho kepada ketentuan Allah dan Rasul Nya
Langkah kedua sebagaimana yang Allah SWT  sebutkan pada ayat ke 35; –jikalau kita khawatir akan ada persengketaan antara keduanya (suami/isteri) maka Alah SWT memerintahkan agar kita mengambil seorang hakim dari kedua belah pihak. Dengan memiliki niat ikhlas untuk melakukan perbaikan. Ini adalah sebuah jalan keluar yang Allah SWT tetapkan ketika sebuah rumah tangga dihadapkan pada sebuah permasalahan yang pelik. Namun, sangat disayangkan bahwa hari ini banyak orang yang tidak mengerti tentang langkah-langkah solusi Ilahiah ini.
Satu ayat sebelum ayat ke-35 adalah sebuah ayat tentang fikih kehidupan suami isteri. Sebuah kaidah yang harus diletakkan lebih dahulu secara tepat. Agar fungsi suami-isteri di dalam berumahtangga tidak tumpang tindih. Hal ini tentunya akan memudahkan kita untuk mendapatkan solusi dari sebuah permasalahan.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka, sebab itu maka wanita yang sholeh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha Besar (QS An Nisa:34)

Seperti apapun tingginya pendidikan seseorang, sehebat apa pun strata sosial dalam kehidupan masyarakatnya tapi ketika semua dengan kesadaran penuh mengembalikan urusannya hanya kepada Allah, maka permasalahan yang menimpa akan lebih mudah untuk diselesaikan.
Posisi laki-laki adalah sebagai seorangQowwam(pemimpin) di dalam rumah tangga. Dalam bahasa arab qowwam/Qoimah adalah bentuk tunggal dari qowaim (qowaim ad dawab) artinya kakinya yang empat. Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsrinya (2:292 MS) tentang kata Qowwam “yaitu pemimpinnya, pembesarnya, hakimnya dan pendidiknya jika bengkok”.
Jadi jelas makna Qowwam yang digunakan dalam ayat tersebut menyebut posisi laki-laki sebagai suami terhadap isterinya memiliki banyak arti:

 

  1. Tiang kokoh ibarat kaki, tanpa adanya sesuatu tidak bisa berdiri.
  2. Pemimpin bagi isteri dan rumah tangganya, tanpanya semua berjalan tanpa arah yang jelas
  3. Hakim rumah tangga, tanpanya permasalahan tidak pernah ada solusi dan keputusannya
  4. Pendidik, tanpanya yang bengkok tetap tidak bisa kembali lurus
Suami harus menyadari posisi pentingnya tersebut. Dan seorang isteri setinggi apapun pendidikan dan status sosialnya maka dia harus meletakkan dirinya sebagai seorang isteri yang dengan ketentuan Allah melebihkan sang suami atas dirinya. Mendengarkan perintah suami selama tidak mengajak untuk bermaksiat kepada Allah.

 

Hilangnya fungsiqowamah hari ini yang menyebabkan turbulensi dahsyat dalam rumah tangga adalah karena ketidakjelasan peran pemimpin. siapa sesungguhnya pemimpin, tidak ada tempat kembali, tidak ada hakim, tidak ada pendidik, tidak ada tempat bersandar.
Seiring dengan hilangnyaqowamahdari seorang suami, sirna pula kenyamanan dalam perjalanan bahtera rumah tangga. Dari ayat-ayat diatas, seorang suami wajib mempertahankan posisiqowamah-nya. Tapi posisi dua hal yang disebutkan ayat tersebut tidak ada dalam dirinya atau perlahan pergi. Dua hal tersebut adalah:kelebihan yang dimilikinya dan kemampuan memberikan nafkah bagi keluarganya.
 
Posisi ini harus diusahakan oleh stiap laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Dan harus diletakkan oleh isteri dalam hatinya yang paling jujur. Jika hari iniqowamah suami menjauh sejengkal dari hati isteri, maka itu artinya telah menarik sejengkal lebih dekat kepada kehancuran rumah tangga.
Barulah setelah itu ayat menyampaikan tentang bagaimana isteri yang baik, ” Maka wanita yang sholeh ialah  ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”.
Ayat 34 ini adalah sebuah teguran agar ayat 35 tidak terjadi. Jika kedua belah pihak mampu menjaga kewajiban masing-masing, maka pertikaian keluarga tidak perlu terjadi. Tapi kalaupun terjadi, dan solusi ayat 34 tidak ada hasilnya, dimana suami tidak sanggup menyelesaikan, maka ayat 35 adalah jalan yang harus ditempuh.
Ketika kaidah ketentuan Allah ini dipegang dan diterapkan dalam kehidupan berumah tangga, Insya Allah pada saat badai melanda kehidupan rumah tangga, semua akan dapat diminimalisir dan dicarikan jalan keluarnya. Seperti rumah tangga Rasulullah SAW.
Rumah tangga Rasulullah SAW adalah rumah tangga manusia pada umumnya. Kehidupan rumah tangganya pun tidak lepas dari pernik-pernik masalah dan problematika keluarga. Karena itulah maka rumah tangga Rasulullah SAW adalah rumah tangga yang sangat manusiawi untuk dicontoh.
Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Aisyah RA:

Bahwasanya telah terjadi cekcok mulut antara Aisyah dan Rasulullah SAW

Rasulullah SAW berkata kepada Aisyah: “Siapa yang kamu setujui untuk menyelesaikan antara aku dan kamu? Apakah kamu setuju Umar bin Khatab?”

Aisyah: “Tidak, Umar keras.”

Rasulullah SAW: “Apakah kamu setuju ayahmu untuk menyelsaikan antara kita?”

 Aisyah, “Ya”

Rasul pun meminta Abu Bakar datang. Dan Rasul menjelaskan: Bahwa dia ini begini dan begitu.

Aisyah: “Takutlah kepada Allah, dan ceritakan dengan jujur!”

Abu bakar mengangkat tangannya menampar hidung aisyah dan berkata: “Kamu, hai anaknya Ummu Ruman, kamu bisa berkata jujur demikian juga ayahmu sementara Rasulullah SAW tidak bisa?”

Rasulullah SAW berkata kepada Abu Bakar: ” Kami tidak memanggilmu untuk melakukan ini.”

Abu Bakar berdiri mengambil pelepah kurma dalam rumah dan hendak memukul saya dengannya. Aku pun lari dan menempel di Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW berkata: ” Aku bersumpah agar kamu keluar, karena kami tidak memanggilmu untuk melakukan ini.”

Ketika Abu Bakar keluar Aisyah menjauh dari Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW: ” Mendekatlah.”

Aisyah menolak.

Rasulullah SAW tersenyum dan berkata: ” Kamu tadi begitu menempel di punggungku.”

Begitulah contohqowamah nabi SAW di hadapan isterinya. Tampil sebagai suami yang lapang hati bahkan saat isteri bersuara tinggi di hadapan mukanya. Menenangkan dan mencoba meraih hatinya. Bahkan menghalangi dari apapun yang akan membuat keadaan semakin memburuk. 
Kita tidak pernah berharap badai datang menerpa bahtera yang kita tumpangi. Tapi itu terjadi, setidaknya kita tahu ada Allah dan Rasul-Nya tempat kembali. 
kisah nyata untuk pembelajaran
 
Pertengkaran rumah tangga yang sudah bisa diselesaikan oleh suami isteri sendiri, harus melibatkan keluarga; hakim dari masing-masing pihak. Berikut ini keluarga yang telah melibatkan keluarga tetapi tetap tidak selesai dengan baik.
Seorang ibu sebut saja dengan nama ibu ani, menceritakan kepada ibu syifa, tetangganya yang dapat dipercaya perihal permasalahn rumah tangga anak perempuannya yang bertengkar hebat dengan suaminya. Padahal mereka telah dikaruniai anak-anak.
“Pantas, saya lihat sering ada disini,” kata ibu syifa.
“Iya sudah lama anak saya bertengkar sama suaminya,” jawab ibu ani.
Bu ani pun mulai menceritakan versi dirinya tentang kisruh rumah tangga yang sudah mengarah kepada kekerasan dalam rumah tangga. Ibu ani menyebut-nyebut jasa putirnya dalam rumah tangga.
Bu syifa mencoba memberikan soslusi sesuai dengan islam.
” oooo sudah bu,” sanggah ibu ani.
“terus hasilnya bagaiman bu?” tanya ibu syifa
” Anak saya diusir, Ya saya terimalah wong itu anak saya,” kata ibu ani sewot.
” Lah kok malah diusir. Pembicaraannya isinya apa?” tanya ibu syifa lagi.
” Mereka di forum itu terus menyalahkan anak saya dan membela anaknnya sendiri. Ya, kami pun balas membela anak kami, ” jelas ibu ani.
Dari pembicaraan tersebut jelas permasalahan tak berujung selesai, karena tidak adanya semangat mencari kebaikan yang adil sehingga memperbesar api pertikaian.
Itulah mengapa yang diperintahkan Al Quran bukan sekadar 2 keluarga besar bertemu, tetapi satu hakim dari masing-masing pihak. Jadi wakil yang hadir harus mempunyai kemampuan sebagai hakim untuk menengahi masalah dengan priinsip-prinsip keadilan. Bukan terlibat dari saling memberikan dukungan. Tetapi mendudukan masalah sesuai porsinya, kemudian menganalisa dan memberikan masukan pada masalah yang sedang terjadi.
Tips:

 

  1. Segeralah memulai dialog antara suami dan isteri tentang perjalanan bahtera rumah tangga ke depan. Dialog tentang segala hal bukan saja indahnya langit biru tapi hingga badai yang bisa datang kapan saja.
  2. Jika suami isteri terbiasa mengembalikan masalah kepada keputusan islam, maka saat badai raumah tangga datang bisa diminimalisir dampaknya. Jadi biasakanlah jika ada keputusan yang harus dibuat dimulai dengan kalimat: Ini dalam Islam solusinya…..
  3. Bagi yang telah mempunyai menantu, maka pelajarilah bagaimana islam mengajarkan sikap orang tua terhadap anaknya yang telah menikah. Ikut campur itu terkadang perlu tetapi untuk kebaikan bukan justru menyiram bensin pada api.
  4. Suami isteri jangan membiasakan diri mengadukan segala hal kepada orang tuanya masing-masing. Sadarilah bahwa anda telah mempunyai tanggung jawab besar sendiri.
Disadur dari “Inspirasi rumah Cahaya”. Menyiapkan Landasan untuk Turbulensi Keluarga. Penulis Ust Budi Ashari, LC