Pengalaman Saya dengan popok kain

Hi,

 

Saya melania dari garasi lil island. Saya ibu dari 2 orang balita dan bayi dengan usia 6 bulan. Saya ingin berbagi tentang pengalaman saya menggunakan popok kain.

 

Keinginan saya untuk menggunakan popok kain modern berawal dari tahun 2009. Saat itu saya masih bekerja dan mempunyai bayi berusia 4 bulan. Tapi karena kesibukan pekerjaan di kantor, keinginan untuk menggunakan popok kain tidak terwujud. Saya tidak mempunyai waktu untuk mencari tahu tentang popok kain modern di internet. Saya lebih focus tentang cara merawat dan mendidik anak dari makanan, pendidikan hingga psikologinya. Celana biasa dari kaus, celana plastic (baru saya tahu kalau ini namanya cover diaper) dan alas ompol dari kain flannel dan tetra juga perlak adalah pilihan yang saya punya dan saya tahu dari pengalaman kakak dan ibu untuk keperluan bermain pagi hingga sore hari. Sedangkan untuk tidur malam hari dan bepergian saya menggunakan popok sekali pakai. Karena saya masih bekerja dan tidak menemani anak ketika pagi hingga sore hari, saya tidak begitu peduli bagaimana nasib si asisten rumah tangga yang bajunya sering kena ompol dan juga jumlah cuciannya yang banyak karena harus sering mengganti celana, alas bermain, seprai dan pakaian anak-anak serta bagaimana kesulitan mereka ketika akan hendak melakukan ibadah shalat karena seringnya terkena pee anak-anak. Saya juga tidak memusingkan bagaimana anggaran saya untuk pembelian popok sekali pakai.

 

Setiap bulan saya memerlukan 40 buah popok sekali pakai untuk masing-masing anak. Saat itu si kakak masih belum bagus toilet trainingnya. Jadi saya mengeluarkan 90 buah popok sekali pakai. Ketika si kakak masih bayi saya masih sanggup membeli popok sekali pakai dengan merk MP yang jenis pull up. Lalu perlahan beralih ke MP pull up yang lebih murah. Lalu si adik juga begitu dari MP original yang mahalan beralih ke BH yang lebih murah tapi punya kualitas yang baik (outernya tidak terbuat dari plastic). Si kakak menggunakan popok sekali pakai selama kurang lebih 3 tahun dan si adik menggunakan kurang lebih sekitar 2 tahun. Bisa dibayangkan yah pengeluaran saya untuk popok sekali pakai untuk kedua buah hati saya itu. Tidak bermaksud hitung-hitungan tapi saya mencoba melihat kembali ke belakang betapa saya sangat tidak memperhatikan berapa banyak uang dan sampah yang saya produksi.

 

Untuk si kakak: 3 tahun x 12 bulan x 40 pospak =  1440 buah pospak

Untuk si adik : 2 tahun x 12 bulan x 40 pospak = 960 buah pospak

 

Total pospak yang sudah dibeli dan dibuang ke tempat penampungan sampah adalah 2400 buah pospak. Dan itu adalah angka yang besar untuk ukuran 2 orang anak bisa menyumbang sampah dengan jumlah demikian, padahal mereka tidak sepenuhnya menggunakan pospak untuk kesehariannya. Bagaimana yang yang setiap hari tidak pernah lepas dari pospak yah. Amazing bagaimana cara orang dewasa menyederhanakan rutinitas pekerjaan dalam merawat anak dan pospak adalah cara yang paling mudah dan simple…beli-pakai-buang. Dan jumlah itu belum lagi dihitung dengan banyaknya pospak yang dibuang beserta si pup. Hehehehe, saya akui kadang saya suka malas jika mencuci si pospak jika terkena pup, paling di siram seperlunya saja, kalau sampai bersih yang ada si gel penyerap ikutan keluar dari pospaknya.

 

Sebelum anak pertama ku lulus dari toilet training, saya memutuskan untuk berhenti bekerja di luar rumah dan mulai focus pada urusan anak saja. Otomatis saya berhadapan dengan kedua batita saya 24 jam 7 hari. Setiap hari cucian saya menggunung karena terkena pipis si kecil yang masih lebih sering minta digendong, juga si sulung yang masih suka lupa untuk mengatakan buang air kecil. Setiap akan shalat saya harus mengganti pakaian, bahkan sajadah yang sedang dipakai juga terkena pipis si kecil. Kain pel harus siap sedia untuk mengeringkan dan membersihkan lantai yang terkena pipis si kecil biar tidak menyebar dan terinjak oleh batita ku yang sedang senang-senangnya jalan-jalan mengelilingi rumah. Benar-benar berbahaya…. Huihhhh. dan yang paling bikin malu adalah bau kamar yang tidak enak. …bau pesing. Heheheh padahal kasurnya sudah aku beri alas dengan kulit jok mobil yang aku beli meteran sehingga seluruh kasur tertutup agar si pee tidak menembus ke dalam kasur. Tapi kok tetap jadinya rumahku bau pesing…Untuk menguranginya aku jadi harus sering melantai/ngepel untuk membersihkan bekas-bekas pee supaya bisa dipakai untuk shalat. Dan saya harus mengganti celana mereka yang basah setiap jam, bahkan sampai 2x dalam sejam. Terbayangkan yah bagaimana pekerjaan rutinitas saya. Saat itu saya hanya punya asisten yang pulang pergi alias tidak menginap. Jadi saya bertugas untuk memasak dan mengurus anak-anak sendirian.

 

Alhamdulillah anak keduaku tidak memerlukan waktu lama dengan pospak, hanya 2 tahun.

 

Ketika anak ketiga saya lahir. Masih belum juga kepikiran dengan popok kain modern. Sampai saya browsing mencari peluang kerja dari rumah dan saya ketemu dengan cerita tentang popok kain modern.  Awalnya saya memang agak bingung dengan popok kain ini karena tidak banyak tulisan yang mengungkap tentang popok kain dan popok kain hanya dipasarkan di internet dan semuanya adalah impor. Ide tentang popok kain adalah hemat, sehat dan ramah lingkungan. Nah kalau saya beli popok kain impor….yah ngga jadi hemat donk yah dan nyicilnya juga mahal. Akhir 2010, akhirnya saya ketemu juga dengan para produsen popopok kain dari Indonesia. Kenalan dengan sites mereka membuat saya bertambah tertarik untuk mencoba popok kain modern dan mulai belajar lagi dari berbagai situs di internet yang kebanyakan berbahasa asing. Pusing juga melakukan penelitian tentang popok kain ini. Dan cukup memakan waktu juga, habis situs lokalnya cuma jualan aja sih. Dan waktu untuk browsingnya selalu sebentar-sebentar, karena disambi dengan mengurus anak.

 

Setelah mencoba beberapa popok kain modern diantaranya ada yang puas ada juga yang kecewa karena merasa tertipu dengan produsen popok kain Indonesia. Untuk yang puas saya lanjutkan dengan kerjasama (hehehe). Tapi sebagai ibu rumah tangga, saya tetap harus kreatif terhadap pengeluaran…saya mencoba lagi bagaimana menambah jumlah popok kain saya dengan anggaran yang lebih murah.

 

Nah perkenalan saya dengan beberapa produsen popok yang menjual bahan-bahan untuk membuat popok dan hasil browsing mencari pola popok di internet juga membuat saya berpikir ternyata untuk berpopok kain tidak harus beli dan juga tidak harus punya baru. Manfaatkan yang kita punya. Intinya kita punya kain yang bisa dilipat-lipat yang bisa menyerap cairan dengan baik, peniti atau lakban juga boleh untuk mengikat/ mengencangkan popok kain agar tidak lepas. Petunjuk menjahit popok kain, melipat popok kain dan memasang popok kain tersebar luas di internet dalam bahasa asing dari tutorial text, foto sampai video. Memang saya yang bodoh waktu itu sibuk mencari resep makanan sama cara mendidik anak saja. Hehehe (tetep ngga bisa masak).

 

Ketika memutuskan berhenti bekerja diluar rumah, saya sempat membeli mesin jahit jadul dengan harga 500 ribu merk singer di pasar jatinegara. Nah dengan mesin inilah saya mencoba mulai membuat popok kain sendiri dan semuanya dari bahan bekas yang saya punya dirumah. Jadi koleksi popok kain saya cukup banyak kira-kira ada 14 buah. Setengahnya beli dari produsen popok, sisanya buatan sendiri.

 

Sekarang saya sudah tidak pusing seperti pengalaman dengan anak kedua dulu. Cucian tidak lagi banyak dan si bungsu bisa bermain merangkak kemana saja tanpa saya khawatir dia akan membasahi kasur atau lantai atau baju saya. Dan yang paling saya suka adalah saya tidak pusing jika persediaan pospak menipis, sampah yang penuh karena pospak, bau pesing di kamar tidur dan ringan dikantong. Tapi yang paling penting saya ngga repot untuk sering ganti baju untuk shalat karena baju saya tidak lagi sering terkena pee si kecil seperti dulu.

 

Tadinya saya sendiri bingung bagaimana merawat popok kain yang sudah saya beli (untuk yang saya jahit ngga terlalu pusing habis murah meriah sih). Tapi ternyata tidak serumit yang saya duga. Ternyata mudah seperti pakaian yang lain ngga perlu disikat, ngga perlu dikucek dengan tenaga kuat pokoknya ringan aja. Alhamdulillah sampai sekarang popok kain yang saya beli tidak mengalami penurunan peforma bahkan semakin sering dicuci dan dijemur, daya serapnya semakin baik.

 

Menyesal kenapa tidak dimulai dari dulu. Heheh ternyata untuk manajemen rumah tangga perlu ilmu juga yah. Alhamdulillah sudah ketemu celah-celahnya dan si popok kain ini merupakan alternatif yang paling ideal menurut saya loh…untuk mengurangi rutinitas pekerjaan dalam merawat anak. Mbak asisten2 ku maaf yah karena sangat merepotkan kalian waktu dulu.

 

Tahap selanjutnya pengen bikin celana untuk toilet training aaahhh…..

 

(tulisan ini dibuat pada april 13-2011

One thought on “Pengalaman Saya dengan popok kain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s