Menyiapkan Landasan untuk Turbulensi Keluarga

Membina rumah tangga dengan segala pasang surutnya diibaratkan bahtera yang sedang melarung di samudera kehidupan. Adakalanya langit cerah memayungi dan ombak melaju tenang, perlahan tapi pasti mendorong bahtera menuju tanjung harapan. Di lain waktu, langit gelap hitam pekat dan amuk badai menerjang. Tak pelak lagi, bahtera terguncang hebat nyaris terhempas karam. Pada kondisi seperti ini nahkoda tak mungkin tinggal diam. Kepiawaiannya dipertaruhkan. Sekuat tenaga ia bertarung melawan ketakutannya sekaligus membuat bahtera bertahan dan terus malaju melanjutkan perjalannya. Tujuannya hanya satu, agar semua penumpang selamat sampai ke tujuan.
Ilustrasi di atas dapat disimpulkan bahwa bekal terpenting seorang kepala rumah tangga adalah kesegeraan, ketegasan dan cermat mengambil langkah-langkah penyelesaian ketika prahara silih berganti menghampiri biduk rumah tangganya. Dan sinilah pentingnya sebuah persiapan untuk menghadapi permasalahan. Bukan berharap badai datang menerpa, tapi ketika badai datang kita sudah lebih dahulu tahu langkah-langkah seperti apa yang harus kita lakukan.
Dalam surat An Nisa ayat 59 Allah SWT memberikan arahan kepada kita ketika mengalami prahara dan turbulensi dalam rumah tangga. Sebenarnya ayat ini merupakan kaidah umu dari sebuah permasalahan.
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri diantara kamu. Kemudiaan jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya . (QS An Nisa: 59)
Ayat kedua utnuk solusi prahara rumah tangga, di surat An Nisa ayat 35:
Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS An-Nisa: 35)
Ketika permasalahan rumah tangga itu datang, menjadi prahara besar maka setiap kita baik suami maupun isteri harus memiliki kesadaran penuh mengembalikan semua solusi hanya kepada allah SWT. Jadikan al Quran sebagai muara rujukan semua permasalahan yang terjadi dalam biduk rumah tangga. Tidak membawa ego masing-masing. Semua pihak mengikhlaskan dan ridho kepada ketentuan Allah dan Rasul Nya
Langkah kedua sebagaimana yang Allah SWT  sebutkan pada ayat ke 35; –jikalau kita khawatir akan ada persengketaan antara keduanya (suami/isteri) maka Alah SWT memerintahkan agar kita mengambil seorang hakim dari kedua belah pihak. Dengan memiliki niat ikhlas untuk melakukan perbaikan. Ini adalah sebuah jalan keluar yang Allah SWT tetapkan ketika sebuah rumah tangga dihadapkan pada sebuah permasalahan yang pelik. Namun, sangat disayangkan bahwa hari ini banyak orang yang tidak mengerti tentang langkah-langkah solusi Ilahiah ini.
Satu ayat sebelum ayat ke-35 adalah sebuah ayat tentang fikih kehidupan suami isteri. Sebuah kaidah yang harus diletakkan lebih dahulu secara tepat. Agar fungsi suami-isteri di dalam berumahtangga tidak tumpang tindih. Hal ini tentunya akan memudahkan kita untuk mendapatkan solusi dari sebuah permasalahan.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka, sebab itu maka wanita yang sholeh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha Besar (QS An Nisa:34)

Seperti apapun tingginya pendidikan seseorang, sehebat apa pun strata sosial dalam kehidupan masyarakatnya tapi ketika semua dengan kesadaran penuh mengembalikan urusannya hanya kepada Allah, maka permasalahan yang menimpa akan lebih mudah untuk diselesaikan.
Posisi laki-laki adalah sebagai seorangQowwam(pemimpin) di dalam rumah tangga. Dalam bahasa arab qowwam/Qoimah adalah bentuk tunggal dari qowaim (qowaim ad dawab) artinya kakinya yang empat. Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsrinya (2:292 MS) tentang kata Qowwam “yaitu pemimpinnya, pembesarnya, hakimnya dan pendidiknya jika bengkok”.
Jadi jelas makna Qowwam yang digunakan dalam ayat tersebut menyebut posisi laki-laki sebagai suami terhadap isterinya memiliki banyak arti:

 

  1. Tiang kokoh ibarat kaki, tanpa adanya sesuatu tidak bisa berdiri.
  2. Pemimpin bagi isteri dan rumah tangganya, tanpanya semua berjalan tanpa arah yang jelas
  3. Hakim rumah tangga, tanpanya permasalahan tidak pernah ada solusi dan keputusannya
  4. Pendidik, tanpanya yang bengkok tetap tidak bisa kembali lurus
Suami harus menyadari posisi pentingnya tersebut. Dan seorang isteri setinggi apapun pendidikan dan status sosialnya maka dia harus meletakkan dirinya sebagai seorang isteri yang dengan ketentuan Allah melebihkan sang suami atas dirinya. Mendengarkan perintah suami selama tidak mengajak untuk bermaksiat kepada Allah.

 

Hilangnya fungsiqowamah hari ini yang menyebabkan turbulensi dahsyat dalam rumah tangga adalah karena ketidakjelasan peran pemimpin. siapa sesungguhnya pemimpin, tidak ada tempat kembali, tidak ada hakim, tidak ada pendidik, tidak ada tempat bersandar.
Seiring dengan hilangnyaqowamahdari seorang suami, sirna pula kenyamanan dalam perjalanan bahtera rumah tangga. Dari ayat-ayat diatas, seorang suami wajib mempertahankan posisiqowamah-nya. Tapi posisi dua hal yang disebutkan ayat tersebut tidak ada dalam dirinya atau perlahan pergi. Dua hal tersebut adalah:kelebihan yang dimilikinya dan kemampuan memberikan nafkah bagi keluarganya.
 
Posisi ini harus diusahakan oleh stiap laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Dan harus diletakkan oleh isteri dalam hatinya yang paling jujur. Jika hari iniqowamah suami menjauh sejengkal dari hati isteri, maka itu artinya telah menarik sejengkal lebih dekat kepada kehancuran rumah tangga.
Barulah setelah itu ayat menyampaikan tentang bagaimana isteri yang baik, ” Maka wanita yang sholeh ialah  ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”.
Ayat 34 ini adalah sebuah teguran agar ayat 35 tidak terjadi. Jika kedua belah pihak mampu menjaga kewajiban masing-masing, maka pertikaian keluarga tidak perlu terjadi. Tapi kalaupun terjadi, dan solusi ayat 34 tidak ada hasilnya, dimana suami tidak sanggup menyelesaikan, maka ayat 35 adalah jalan yang harus ditempuh.
Ketika kaidah ketentuan Allah ini dipegang dan diterapkan dalam kehidupan berumah tangga, Insya Allah pada saat badai melanda kehidupan rumah tangga, semua akan dapat diminimalisir dan dicarikan jalan keluarnya. Seperti rumah tangga Rasulullah SAW.
Rumah tangga Rasulullah SAW adalah rumah tangga manusia pada umumnya. Kehidupan rumah tangganya pun tidak lepas dari pernik-pernik masalah dan problematika keluarga. Karena itulah maka rumah tangga Rasulullah SAW adalah rumah tangga yang sangat manusiawi untuk dicontoh.
Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Aisyah RA:

Bahwasanya telah terjadi cekcok mulut antara Aisyah dan Rasulullah SAW

Rasulullah SAW berkata kepada Aisyah: “Siapa yang kamu setujui untuk menyelesaikan antara aku dan kamu? Apakah kamu setuju Umar bin Khatab?”

Aisyah: “Tidak, Umar keras.”

Rasulullah SAW: “Apakah kamu setuju ayahmu untuk menyelsaikan antara kita?”

 Aisyah, “Ya”

Rasul pun meminta Abu Bakar datang. Dan Rasul menjelaskan: Bahwa dia ini begini dan begitu.

Aisyah: “Takutlah kepada Allah, dan ceritakan dengan jujur!”

Abu bakar mengangkat tangannya menampar hidung aisyah dan berkata: “Kamu, hai anaknya Ummu Ruman, kamu bisa berkata jujur demikian juga ayahmu sementara Rasulullah SAW tidak bisa?”

Rasulullah SAW berkata kepada Abu Bakar: ” Kami tidak memanggilmu untuk melakukan ini.”

Abu Bakar berdiri mengambil pelepah kurma dalam rumah dan hendak memukul saya dengannya. Aku pun lari dan menempel di Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW berkata: ” Aku bersumpah agar kamu keluar, karena kami tidak memanggilmu untuk melakukan ini.”

Ketika Abu Bakar keluar Aisyah menjauh dari Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW: ” Mendekatlah.”

Aisyah menolak.

Rasulullah SAW tersenyum dan berkata: ” Kamu tadi begitu menempel di punggungku.”

Begitulah contohqowamah nabi SAW di hadapan isterinya. Tampil sebagai suami yang lapang hati bahkan saat isteri bersuara tinggi di hadapan mukanya. Menenangkan dan mencoba meraih hatinya. Bahkan menghalangi dari apapun yang akan membuat keadaan semakin memburuk. 
Kita tidak pernah berharap badai datang menerpa bahtera yang kita tumpangi. Tapi itu terjadi, setidaknya kita tahu ada Allah dan Rasul-Nya tempat kembali. 
kisah nyata untuk pembelajaran
 
Pertengkaran rumah tangga yang sudah bisa diselesaikan oleh suami isteri sendiri, harus melibatkan keluarga; hakim dari masing-masing pihak. Berikut ini keluarga yang telah melibatkan keluarga tetapi tetap tidak selesai dengan baik.
Seorang ibu sebut saja dengan nama ibu ani, menceritakan kepada ibu syifa, tetangganya yang dapat dipercaya perihal permasalahn rumah tangga anak perempuannya yang bertengkar hebat dengan suaminya. Padahal mereka telah dikaruniai anak-anak.
“Pantas, saya lihat sering ada disini,” kata ibu syifa.
“Iya sudah lama anak saya bertengkar sama suaminya,” jawab ibu ani.
Bu ani pun mulai menceritakan versi dirinya tentang kisruh rumah tangga yang sudah mengarah kepada kekerasan dalam rumah tangga. Ibu ani menyebut-nyebut jasa putirnya dalam rumah tangga.
Bu syifa mencoba memberikan soslusi sesuai dengan islam.
” oooo sudah bu,” sanggah ibu ani.
“terus hasilnya bagaiman bu?” tanya ibu syifa
” Anak saya diusir, Ya saya terimalah wong itu anak saya,” kata ibu ani sewot.
” Lah kok malah diusir. Pembicaraannya isinya apa?” tanya ibu syifa lagi.
” Mereka di forum itu terus menyalahkan anak saya dan membela anaknnya sendiri. Ya, kami pun balas membela anak kami, ” jelas ibu ani.
Dari pembicaraan tersebut jelas permasalahan tak berujung selesai, karena tidak adanya semangat mencari kebaikan yang adil sehingga memperbesar api pertikaian.
Itulah mengapa yang diperintahkan Al Quran bukan sekadar 2 keluarga besar bertemu, tetapi satu hakim dari masing-masing pihak. Jadi wakil yang hadir harus mempunyai kemampuan sebagai hakim untuk menengahi masalah dengan priinsip-prinsip keadilan. Bukan terlibat dari saling memberikan dukungan. Tetapi mendudukan masalah sesuai porsinya, kemudian menganalisa dan memberikan masukan pada masalah yang sedang terjadi.
Tips:

 

  1. Segeralah memulai dialog antara suami dan isteri tentang perjalanan bahtera rumah tangga ke depan. Dialog tentang segala hal bukan saja indahnya langit biru tapi hingga badai yang bisa datang kapan saja.
  2. Jika suami isteri terbiasa mengembalikan masalah kepada keputusan islam, maka saat badai raumah tangga datang bisa diminimalisir dampaknya. Jadi biasakanlah jika ada keputusan yang harus dibuat dimulai dengan kalimat: Ini dalam Islam solusinya…..
  3. Bagi yang telah mempunyai menantu, maka pelajarilah bagaimana islam mengajarkan sikap orang tua terhadap anaknya yang telah menikah. Ikut campur itu terkadang perlu tetapi untuk kebaikan bukan justru menyiram bensin pada api.
  4. Suami isteri jangan membiasakan diri mengadukan segala hal kepada orang tuanya masing-masing. Sadarilah bahwa anda telah mempunyai tanggung jawab besar sendiri.
Disadur dari “Inspirasi rumah Cahaya”. Menyiapkan Landasan untuk Turbulensi Keluarga. Penulis Ust Budi Ashari, LC

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s